“bang, gimana kabar istri abang? Sudah lama tak berjumpa”
“baik. Sehat koq Sumarni. Tambah agak kurusan sekarang”
“wach, payah abang. Salah abang itu, soalnya servis malam kurang baik”
“malah kebalikannya San, kebanyakan oli jadinya terlalu licin”
“HWA HA HA HA”, seisi rumah makan itu spontan tertawa.
Santi perawan tua penjual nasi di terminal bus Arjosari. Kerudungnya yang panjang, baju longgar yang tidak tampak lekuk badan. Tak menjadi hambatan dan penghalang apalagi menjadikan Sinta riskan untuk berbaur dengan para sopir dan kenek bus yang mampir di warung makannya.
“kapan undangan kamu di cetak San?”
“udach bang, jangan tanya gitu. Bosen ngejawabnya”, jawab Santi dengan nada datar. Nampak kentara sekali di mukanya ada sesuatu yang sangat berkesan bagi Santi tentang jodoh dan pernikahan. Maklum, umur Sinta sudah berkepala tiga dan sampai sekarang belum menikah.
Para pembeli datang dan pergi bergantian. Ada bapak-bapak penjual asongan yang hanya ingin bertegur sapa. Tata letak warung makan Santi sangat cocok untuk di buat bersantai. Apalagi setelah seharian menyopir, lega rasanya bisa menselonjorkan kaki dengan menikmati udara sepoi-sepoi di temani dengan secangkir kopi pahit. Untuk tempat memasak, Santi mendesainnya berada di dalam ruangan kotak berukuran 5 kali 6 meter, di depannya disediakan 4 buah meja panjang dengan 2 tempat duduk panjang. disebelah pojok kiri terdapat pohon ceres. Angin sepoi-sepoi menambah kelezatan masakan Santi.
JJJJJJJJJJJJJJ
“keluar saja kamu dari rumahku. Kamu tidak berhak untuk berada di sini. Kamu saya cerai dan aku bukan lagi suami kamu lagi”, ucap seorang laki-laki separuh baya dengan mengacungkan telunjuk tangan kepada istrinya.
“baiklah kalau Mas mau kita cerai. Maafkan aku Mas, kalau ada salah. Perbuatanku yang menyinggung hati Mas”, timpal sang istri dengan wajah terduduk lemas. Air mata meleleh di sela-sela pipinya.
“aku tidak butuh air matamu, sekarang cepat pergi dan jangan lupa bawa anak kesayanganmu ini”, jawab sang suami dengan suara makin keras. Gurat kemarahan tampak jelas menjalar di urat syarafnya. Dalam tatapan matanya hanya terpancar kemarahan dan kebencian yang amat. Tidak ada belas kasihan sama sekali.
Dengan berat hati Suhartatik, nama perempuan itu, hanya berbekal pakaian yang melekat di badannya dan tanpa uang sepeser pun. Langkah demi langkah menuju teras depan rumah. Rumah yang sudah 7 tahun merekam kebahagiaan dan suka duka rumah tangga Suhartatik. Rumah yang telah menjadi tempatnya berteduh dan mengasuh buah cinta mereka semata wayang.
Dan kini, hanya karena kesalah pahaman Suhartatik harus merelakan rumah itu. Suhartatik, perempuan desa yang tidak mengerti dengan permainan politik. Hanya bisa pasrah menerima keadaan. Sebelum melangkah pergi, Suhartatik memandangi rumahnya untuk yang terakhir kali. Rumah sederhana dengan warna cat dominan hijau muda, warna kesukaannya. Tanaman hias yang selalu di siraminya tiap pagi, di pojok depan kolam ikan yang sudah lama tidak di pergunakan.
“ibu, Sinta kedinginan”, bocah perempuan dengan lesung pipit, rambutnya yang panjang sebahu di kuncir kuda. Sungguh malang anak ini, harus menjalani masa yang pedih disaat dia sebenarnya menikmati masa kecilnya dengan bermain-main.
Sang ibu tersentak kaget. Ia lupa kalau kini dia mempunyai tanggung jawab terhadap anaknya semata wayang. Dilihatnya air mata Sinta bercampur dengan tetesan air hujan. Tidak ada seorang ibu pun yang tega melihat anaknya sedih, apalagi dia masih kecil. Masih membutuhkan banyak kasih saying. Anaknya yang masih berumur 8 tahun harus berpisah dengan ayahnya.
“anakku sayang”, dipeluknya badan Santi erat-erat yang menggigil kedinginan. Dalam derasnya air hujan, Suhartatik membelai rambut anaknya yang basah. Hati Suhartatik makin tak kuasa mendengar isakan tangis anaknya yang tak henti-henti.
Malam yang gelap dan dingin, air hujan turun begitu derasnya, suara halilintar menyambar bergantian dengan cahaya kilat petir. Seorang ibu muda menggendong anaknya berlari-lari kecil untuk mencari tempat berteduh.
Hati yang dingin melebihi dinginnya malam itu.
