Mengenai Saya

Pengikut

Senin, 13 Juni 2011

Hati yang dingin


“bang, gimana kabar istri abang? Sudah lama tak berjumpa”

“baik. Sehat koq Sumarni. Tambah agak kurusan sekarang”

“wach, payah abang. Salah abang itu, soalnya servis malam kurang baik”

“malah kebalikannya San, kebanyakan oli jadinya terlalu licin”

“HWA HA HA HA”, seisi rumah makan itu spontan tertawa.

Santi perawan tua penjual nasi di terminal bus Arjosari. Kerudungnya yang panjang, baju longgar yang tidak tampak lekuk badan. Tak menjadi hambatan dan penghalang apalagi menjadikan Sinta riskan untuk berbaur dengan para sopir dan kenek bus yang mampir di warung makannya.

“kapan undangan kamu di cetak San?”

“udach bang, jangan tanya gitu. Bosen ngejawabnya”, jawab Santi dengan nada datar. Nampak kentara sekali di mukanya ada sesuatu yang sangat berkesan bagi Santi tentang jodoh dan pernikahan. Maklum, umur Sinta sudah berkepala tiga dan sampai sekarang belum menikah.

Para pembeli datang dan pergi bergantian. Ada bapak-bapak penjual asongan yang hanya ingin bertegur sapa. Tata letak warung makan Santi sangat cocok untuk di buat bersantai. Apalagi setelah seharian menyopir, lega rasanya bisa menselonjorkan kaki dengan menikmati udara sepoi-sepoi di temani dengan secangkir kopi pahit. Untuk tempat memasak, Santi mendesainnya berada di dalam ruangan kotak berukuran 5 kali 6 meter, di depannya disediakan 4 buah meja panjang dengan 2 tempat duduk panjang. disebelah pojok kiri terdapat pohon ceres. Angin sepoi-sepoi menambah kelezatan masakan Santi.

JJJJJJJJJJJJJJ

“keluar saja kamu dari rumahku. Kamu tidak berhak untuk berada di sini. Kamu saya cerai dan aku bukan lagi suami kamu lagi”, ucap seorang laki-laki separuh baya dengan mengacungkan telunjuk tangan kepada istrinya.

“baiklah kalau Mas mau kita cerai. Maafkan aku Mas, kalau ada salah. Perbuatanku yang menyinggung hati Mas”, timpal sang istri dengan wajah terduduk lemas. Air mata meleleh di sela-sela pipinya.

“aku tidak butuh air matamu, sekarang cepat pergi dan jangan lupa bawa anak kesayanganmu ini”, jawab sang suami dengan suara makin keras. Gurat kemarahan tampak jelas menjalar di urat syarafnya. Dalam tatapan matanya hanya terpancar kemarahan dan kebencian yang amat. Tidak ada belas kasihan sama sekali.

Dengan berat hati Suhartatik, nama perempuan itu, hanya berbekal pakaian yang melekat di badannya dan tanpa uang sepeser pun. Langkah demi langkah menuju teras depan rumah. Rumah yang sudah 7 tahun merekam kebahagiaan dan suka duka rumah tangga Suhartatik. Rumah yang telah menjadi tempatnya berteduh dan mengasuh buah cinta mereka semata wayang.

Dan kini, hanya karena kesalah pahaman Suhartatik harus merelakan rumah itu. Suhartatik, perempuan desa yang tidak mengerti dengan permainan politik. Hanya bisa pasrah menerima keadaan. Sebelum melangkah pergi, Suhartatik memandangi rumahnya untuk yang terakhir kali. Rumah sederhana dengan warna cat dominan hijau muda, warna kesukaannya. Tanaman hias yang selalu di siraminya tiap pagi, di pojok depan kolam ikan yang sudah lama tidak di pergunakan.

“ibu, Sinta kedinginan”, bocah perempuan dengan lesung pipit, rambutnya yang panjang sebahu di kuncir kuda. Sungguh malang anak ini, harus menjalani masa yang pedih disaat dia sebenarnya menikmati masa kecilnya dengan bermain-main.

Sang ibu tersentak kaget. Ia lupa kalau kini dia mempunyai tanggung jawab terhadap anaknya semata wayang. Dilihatnya air mata Sinta bercampur dengan tetesan air hujan. Tidak ada seorang ibu pun yang tega melihat anaknya sedih, apalagi dia masih kecil. Masih membutuhkan banyak kasih saying. Anaknya yang masih berumur 8 tahun harus berpisah dengan ayahnya.

“anakku sayang”, dipeluknya badan Santi erat-erat yang menggigil kedinginan. Dalam derasnya air hujan, Suhartatik membelai rambut anaknya yang basah. Hati Suhartatik makin tak kuasa mendengar isakan tangis anaknya yang tak henti-henti.

Malam yang gelap dan dingin, air hujan turun begitu derasnya, suara halilintar menyambar bergantian dengan cahaya kilat petir. Seorang ibu muda menggendong anaknya berlari-lari kecil untuk mencari tempat berteduh.

Hati yang dingin melebihi dinginnya malam itu.

Sabtu, 11 Juni 2011

Sarjana jualan ikan hias

Yach, akhirnya aku bisa mendapatkan gelar S1. Dengan susah payah aku mengerjakan skripsiku. Dan Alhamdulillah lagi, aku bisa menyelesaikannya tepat waktu. Ada satu hal yang tidak aku suka, teman-temanku yang belum mengerjakan skripsi mengejekku. Buat apa lulus cepet-cepet. Paling-paling bis sarjana jadi pengangguran. Kayak aku nich, cari kerja mulai sekarang, jadi enak kalau dah lulus. Enggak menambah beban Negara.
Aku paling benci banget, mendengar perkataan seperti itu.
Tapi, aku bersama teman-teman yang sama-sama sedang mengerjakan skripsi membulatkan tekad. Walaupun kita memang belum punya tujuan pekerjaan yang jelas, tetapi lulus tepat waktu juga prestasi. Paling tidak orang tua tidak usah terbebani dengan membayar semester.
Tidak begitu lama, skripsiku jadi dan jadilah aku dengan gelar sarjana muda.
Sudah 1 bulan aku tidak menyandang nama “mahasiswa”. Dan pertama kali aku beradapatasi dengan kondisi rumah, sangat menjemukan. Yang kulakukan tiap harinya hanya bersih-bersih rumah, tidur, makan, nonton tv, sholat. Tidak ada kegiatan kumpul-kumpul, rapat-rapat membahas suatu hal yang penting seperti budaya kampus.
Dan waktu terus berjalan, biarpun aku menangis sampai sebanyak air laut, dunia tidak akan memperdulikanku. Aku harus merubah gaya hidupku, harus aku relakan kebahagiaanku bersama teman-teman kampus. Dan menjalani hidup baru dengan teman-teman baru, masalah-masalah baru. Semua serba baru. Begitu pula dengan pekerjaanku.
Sarjana penjual ikan hias. Hehehe. 4 tahun aku belajar di kampus jadinya penjual ikan hias. Biarlah aku jalani yang ada.
Walaupun kini aku menjaga toko ikan hias milik kakakku, tapi aku berbeda dengan penjual-penjual lainnya. (beda dong yang sekolah dengan yang tidak sekolah).
Biarlah orang-orang berkata apa tentang titelku yang sarjana. Tidak ada gunanya aku terus bersedih. Hidup harus dijalani, meskipun dengan atau tanpa title sarjana.
Sekarang aku boleh berada dibawah, tapi 4 atau 5 tahun lagi dunia akan tahu siapa aku.

Jumat, 10 Juni 2011

Dingin adalah sahabatku


Dalam satu hari kita mempunyai waktu 24 jam untuk kita pergunakan semau kita. Dan sering kali kita berpikir kenapa hanya ada 24 jam dalam 1 hari. Andaikan ada 30 jam, mungkin bisa kita pergunakan untuk istirahat dan bersantai-santai sejenak.

Tuhan sudah memberikan jatah kepada manusia 1 hari dalam 24 jam. Dan itu sudah ditetapkan. Coba kita tengok kebiasaan manusia (kebanyakan)yang baru bangun jam 6 pagi dan tidur pukul 10 malam. Jadi komplitnya, dari 24 jam yang ada kita hanya memanfaatkan 16 jam.

Dingin bukan alas an untuk bermalas-malasan di tempat tidur. Kalau kita bisa bersahabat dengan dingin kita kan merasakan banyak manfaatnya.

Seandainya kita mau mempergunakan waktu subuh untuk beraktifitas juga tidak ada yang melarang selama itu tidak mengganggu orang lain.

Senang rasanya bisa mengalahkan rasa malas karena dingin, hidup serasa semangat 100%, dunia seperti dalam genggaman kita. Walaupun memang sangat sulit untuk mengalahkan rasa malas itu.

Akan terasa sangat mudah bila kita mau membiasakannya mulai sekarang.

Rabu, 08 Juni 2011

Bakat sukses

Tidak ada orang yang gagal, semua pasti berhasil. Hidup benar-benar perjuangan. Kita lahir juga karena perjuangan.sperma yang membawa gen kita berlarian menuju ovum, berlomba dengan sperma-sperma yang lain. Kemudian lahirlah kita ke dunia. Dunia yang sarat dengan kerja keras.
Walaupun dunia ini tidak selamanya, bukan berarti kita tidak usah memperbaiki kualitas kehidupan di dunia.
Kita dilahirkan bukan asal-asalan, membutuhkan perencanaan yang amat rumit. Bentuk detail tangan kita, kaki, rambut, mata dan organ-organ lainnya. Tuhan sudah baik sama kita, gak kebayang bila kita disuruh membeli organ-organ tubuh kita. Tapi, Tuhan maha penyayang, kita sudah diciptakan dengan amat sempurna, dan kewajiban kita adalah menjaga dengan sebaik-baiknya dan menggunakannya untuk kebaikan bersama.
Otak menyimpan maha keajaiban, hanya seberat 1,5kg tetapi mempunyai fungsi inti. Dengan otak kita bias menggerakkan badan kita, mengirimkan informasi untuk dilakukan. Kita hanya butuh menggunakannya dengan baik.
Otak untuk berpikir, esok apa yang aku lakukan agar menjadi lebih baik dari hari sekarang. Tangan dan kaki untuk bekerja. Ketika kita memulai seluruh organ pun bekerja.
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Pikirkanlah sesuatu yang tidak mungkin bias di bantu oleh manusia, sehingga Tuhan akan membantumu.
Manusia diciptakan untuk menjadi sukses dan bahagia.

Selasa, 07 Juni 2011

menang kalah adalah pilihan

lagi-lagi Ratna uring-uringan sendiri. sudah 7 kali Ratna mengikuti lomba menulis cerpen. Ratna mempunyai hobi menulis, sehingga dia berharap bisa membawa Juara. untuk diperlihatkan kepada teman-temannya di sekolah.
lain pula dengan Doni, dia berkata "aku akan mengikuti lomba menggambar karena aku yakin aku akan menjadi pemenangnyaa".
hidup adalah pilihan, semua hal. saat kita bangun tidur pun, itu adalah hasil dari pilihan. pukul menunjukkan jam 3 pagi, udara dingin semakin menusuk-nusuk tulang.