Yach, akhirnya aku bisa mendapatkan gelar S1. Dengan susah payah aku mengerjakan skripsiku. Dan Alhamdulillah lagi, aku bisa menyelesaikannya tepat waktu. Ada satu hal yang tidak aku suka, teman-temanku yang belum mengerjakan skripsi mengejekku. Buat apa lulus cepet-cepet. Paling-paling bis sarjana jadi pengangguran. Kayak aku nich, cari kerja mulai sekarang, jadi enak kalau dah lulus. Enggak menambah beban Negara.
Aku paling benci banget, mendengar perkataan seperti itu.
Tapi, aku bersama teman-teman yang sama-sama sedang mengerjakan skripsi membulatkan tekad. Walaupun kita memang belum punya tujuan pekerjaan yang jelas, tetapi lulus tepat waktu juga prestasi. Paling tidak orang tua tidak usah terbebani dengan membayar semester.
Tidak begitu lama, skripsiku jadi dan jadilah aku dengan gelar sarjana muda.
Sudah 1 bulan aku tidak menyandang nama “mahasiswa”. Dan pertama kali aku beradapatasi dengan kondisi rumah, sangat menjemukan. Yang kulakukan tiap harinya hanya bersih-bersih rumah, tidur, makan, nonton tv, sholat. Tidak ada kegiatan kumpul-kumpul, rapat-rapat membahas suatu hal yang penting seperti budaya kampus.
Dan waktu terus berjalan, biarpun aku menangis sampai sebanyak air laut, dunia tidak akan memperdulikanku. Aku harus merubah gaya hidupku, harus aku relakan kebahagiaanku bersama teman-teman kampus. Dan menjalani hidup baru dengan teman-teman baru, masalah-masalah baru. Semua serba baru. Begitu pula dengan pekerjaanku.
Sarjana penjual ikan hias. Hehehe. 4 tahun aku belajar di kampus jadinya penjual ikan hias. Biarlah aku jalani yang ada.
Walaupun kini aku menjaga toko ikan hias milik kakakku, tapi aku berbeda dengan penjual-penjual lainnya. (beda dong yang sekolah dengan yang tidak sekolah).
Biarlah orang-orang berkata apa tentang titelku yang sarjana. Tidak ada gunanya aku terus bersedih. Hidup harus dijalani, meskipun dengan atau tanpa title sarjana.
Sekarang aku boleh berada dibawah, tapi 4 atau 5 tahun lagi dunia akan tahu siapa aku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar